12 November 2014

Hikmah Dalam Nikmat

Terlihat empat pemuda duduk bersantai disebuah balai dekat kaki punggungan sebuah gunung, seorang diantaranya dengan mengernyit dahi dan matanya dengan serius memandang kearah punggungan gunung didepannya  yang diselimuti hutan yang terlihat lebat, Sambil menghirup kopi yang masih terlihat panas dia menyela memecah kesunyian “berapa hari kita akan tembus ke ujung sungai di balik pegunungan itu?” tanyanya pelan sambil menghembuskan kepulan rokok kreteknya, anak muda disampingnya dengan tertawa ceria menjawab dalam candanya “gak usah serius men, tembus gak tembus, tiga hari kita harus kelar dari sini, karena persiapan logistik kita pas untuk segitu.”

Hari mulai beranjak gelap, sudah tidak terlihat lagi sinar matahari, yang menerangi sekitar mereka kecuali hanya suara terjangan hujan yang jatuh di atap rumbia balai tempat mereka berteduh. Empat pemuda tersebut mulai membongkar cariel masing-masing untuk mengeluarkan perbekalan pendakian yang sudah mereka siapkan, kemudian mereka disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang menyalakan api sebagai penerangan dan yang lain juga tampak bersemangat memasak menu yang sudah disiapkan untuk santapan malam ini. Jam menunjukkan pukul 19:00 wib, hidangan malam dari nasi, telur goreng, sop kentang dan kerupuk tepung sudah terisi di piring empat pendaki muda yang masih berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi, tanpa harus dikomandoi empat piring sudah bersih dari isinya dilahap oleh pemiliknya masing-masing. “kita besok bangun jam 07:00 dan berangkat mendaki  jam 08:00 wib, urusan istirahat malam ini, terserah kita mau tidur jam berapa, gimana?” tanya salah satu dari mereka, “ok, gampang itu” jawab serempak tiga lainnya.  Setelah itu terdengar lelucon-lelucon diselingin sesekali tawa akrab dari mereka serentak, yang menyatakan empat pendaki muda itu sudah sangat akrab satu sama lain. Tidak terasa mereka asik bercengkrama ria mengisi malam yang lebih gelap dari malam-malam mereka sebelumnya, hentakan hujan di bumi sudah tidak terdengar dan jam sudah mengarah pada angka 12 yang menandakan waktu sudah tengah malam.

“Aku tidur duluan,” sambil menguap salah satu dari mereka meminta izin membaringkan tubuh di matras yang di gelar dilantai balai tempat mereka berteduh dari hujan sejak sore tadi. Dan selanjutnya satu persatu dari tiga pemuda lainnya juga mulai membaringkan tubuh untuk mengambil waktu isitirahatnya.

Matahari yang belum terlihat jelas dimana letaknya mulai menerangi bumi, pertanda pagi sudah datang. suara ketukan sendok dan piring mengiringi pagi para pendaki yang sedang sarapan. Jam sudah menunjukan pukul 07:55 wib, semua perlengkapan yang dibongkar semalam dari cariel sudah tertata kembali dengan rapi dicariel masing-masing para pendaki. Tepat jam 08:00, cariel-cariel mereka sudah berada di pundak mereka, “untuk keselamatan dari awal hingga akhir perdakian kita mari kita berdoa dalam hati masing-masing, Al-fatihah,”  salah seorang dari mereka yang dijadikan ketua team pendakian kali ini memimpin awal perjalanan.

Secara beriringan para pendaki itu mulai menapaki punggungan gunung yang menjadi target pendakian mereka, sesekali orang paling depan dari mereka yang disebut leader mengayunkan parang untuk membersihkan jalur dari semak-semak bekas kebun masyarakat supaya bisa dilewati. Tidak jarang juga navigator si pemegang kompas yang berjalan ditengah-tengah barisan menunjukkan arah untuk mengarahkan sipembuka jalur.

“Saatnya rest” ujar pendaki berkulit hitam yang menjadi ketua team pendakian,sambil melirik jamnya yang sudah menunjukkan pukul 12:05 wib. Keringat terlihat mulai membasahi tubuh para pendaki yang duduk tak beraturan mengelilingi dua gelas kopi yang baru saja dimasak dengan alat masak khusus digunung, “wak, kita sedikit buru waktu setelah ini karena jalur pendakian kita masih panjang, pokoknya kita usahakan basecamp kita malam nanti harus sampai di countur ini,” ujar sang navigator sambil telunjuknya menyentuh countur yang menandakan landai dipeta. “gimana,siap?” tanyanya lagi. “ok” jawab leader dengan pasti.

Satu persatu cariel kembali diangkat ke bahu masing-masing, jam 13:30 wib, perjalanan kembali dilanjutkan, sesuai arahan sang navigator, dengan sigap pemuda yang bertugas sebagai leader dari awal pendakian mulai menerobos ilalang yang menyelimuti punggungan gunung, tanpa terasa hari terlihat sudah agak gelap, jam menunjukkan pukul 17:10. “Ok, sesuai target kita buka camp disini malam ini,” si ketua team menghentikan langkah para pendaki.

Seperti biasa pendakian, personil team mulai mengurus tugasnya masing-masing sesuai kesepakatan perencanaan sebelum pendakian, mencari kayu bakar, memasak dan mendirikan tenda terselesaikan dengan baik berkat saling menjaga tugas masing-masing dan kerjasama team yang apik. Waktu sudah menginjak malam hari, team sudah menunai hak perutnya masing-masing tanpa arahan siapapun, satu persatu personil team masuk ketenda dan meninggalkan api kecil yang menjilat-jilat dinginnya udara malam didepan tenda tempat merek bercengkrama sejak tadi.

Pagi kembali menyapa para pendaki, sinar matahari pagi mengusap tenda dan para pendaki sudah siap berangkat setelah sebelumnya mengecek semua perlengkapan dan membereskan tempat peristirahatan semalam. Di awali dengan doa bersama para pendaki mulai menapaki countur ke countur menerobos hutan. Dalam perjalanan acap kali pendaki menemukan alur-alur kecil yang jernih melewati lekukan lembah, tanpa menyentuhpun pendaki sudah bisa merasakan kesegaran dari jernihnya aliran air alur itu. “Allah maha besar, tanpa sungai yang besar air ini mengalir jernih diantara rimbunnya hutan menemani kehidupan satwa-satwa disini” ujar sang ketua team sambil berjalan, “sungguh Allah maha adil dan bijaksana,” tambahnya pelan tanpa melihat kearah siapapun sebagai lawan bicara. Matahari terlihat sudah merangkak diatas ubun-ubun, pertanda waktu sudah tengah hari, para pendaki sudah duduk beristirahat diantara pepohonan yang lebat menikmati kopi dan snack roti seadanya.

Perjalanan kembali dilanjutkan, jarum jam sudah menunjukkan pada arah pukul 13:30 wib. Dengan pasti langkah-langkah pendaki menyusuri medan yang terlihat agak menurun dan sesekali tangan pendaki harus berpegangan kuat pada batang-batang pohon kecil untuk menyeimbangkan tubuhnya saat melewati medan yang agak curam. Tujuan hampir sampai, air terjun dengan aliran deras dan segar mulai terbayang-bayang di mata pendaki. Tepat pukul 16:17 wib, bayangan yang dari tadi mengintai otak kiri kanan para pendaki menjadi nyata di depan mata, suara air yang jatuh terdengar bagai irama yang membuat rasa lelah para pendaki seketika hilang, tanpa ajak-mengajak dan tanpa kompromi mereka para pendaki langsung merendam tubuhnya yang dari tadi dipenuhi keringat bagai air garam menyiram tubuh.

Puas bermain dengan kesegaran, pendaki menjemur diri di batu-batu besar di dekat sungai yang menjelma bagai surga bagi mereka, seseorang dari mereka menyela diantara suara air yang jatuh menimpa bebatuan “hidup memang begini, bukan keinginan yang harus di paksakan tapi mensyukuri kebutuhan yang terpenuhi” ujarnya dengan tersenyum, “dari kemarin kita tidak bisa memakan apa yang kita inginkan kecuali hanya terbatas perbekalan yang ada, kita tidak bisa berjalan arah sesuka hati tapi arah yang sudah ditentukan baru kita bisa menemukan keindahan ini untuk kita nikmati” tambahnya lagi. “ya benar memang, kenapa masih ada orang didunia yang kadang terkesan susah hidupnya dengan segala kebutuhan yang terpenuhi, mungkin mereka terlalu mengejar keinginan tanpa mensyukuri kebutuhan yang telah Allah berikan pada dia, dari perjalanan kali ini aku bisa mengambil hikmah untuk perjalanan hidup ku” ketua team menyambung pembicaran tadi “yakin berusaha dan mensyukuri hasil dari usaha adalah cara menikmati hidup ini,” pungkas ketua team.

Matahari terlihat menyeret cahayanya dicelah-celah puncak gunung arah barat dari basecamp tempat para pendaki muda itu berteduh dari belaian dinginnya suasana di pinggir sungai diantara punggung pegunungan yang menghimpit, malam mulai menyapa pendaki, gemericik suara air dan sinar rembulan yang malu-malu menemani senyuman pendaki malam itu yang terlihat puas dengan pencapaian sesuai target pendakian kali ini, dibarengi nikmat dan hikmah yang bisa mereka rasakan, usaha yang lelah terbayar sudah dengan segala keindahan didepan mata mereka.


Penulis
Broe
“Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Unigha.”
“Ka.Div Mountaineering di UKM-Mapala Jabal Everest Unigha.”

30 Oktober 2014

Curhatan Mahasiswa Lama

“Apa itu UKM-MAPALA,” Mungkin itu salah satu pertanyaan yang pernah timbul di pikiran kamu, baik itu saat pertama kuliah atau saat melihat selebaran-selebaran yang di sebarkan dimading-mading kampus, atau tanpa sengaja saat membuat tugas kuliah diwarkop berperangkat wifi menemukan blog-blog  Mapala. Tanpa sedikitpun rasa penasaran, kalian mencoba tanyakan kepada teman-teman se-ruang atau sekampus “tentang APA ITU,” dan dari beberapa kalian tidak menemukan jawaban yang pasti , akhirnya kalian membuat jawaban sendiri “MAPALA adalah pendaki gunung, penelusur goa, pendayung boat di sungai-sungai, atau pemanjat tebing-tebing yang mempertaruhkan nyawa untuk sebuah hobi.” Dan yang lebih parahnya kalian mengambil kesimpulan dari pandangan kalian sendiri “MAPALA itu adalah mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan kuliah atau segerombolan mahasiswa yang tidak ada kerjaan dan tidak peduli tentang masa depannya sendiri.” Dengan lega kalian mengeryit dahi dan tersenyum sinis sambil mengatakan “oh ternyata itu MAPALA.”

Aku disini sebagai seorang mahasiswa yang ikut kelas perkuliahan di Fakultas Ekonomi progam pendidikan Manajemen, beberapa tahun lalu juga pernah menanyakan pertanyaan persis sama yang timbul di pikiran kalian. Tanpa merasa beruntung atau melebih-lebihkan aku berani mengatakan mungkin aku salah satu mahasiswa yang beruntung  menemukan jawaban yang sebenarnya.

UKM-MAPALA yang aku artikan dulu adalah mahasiswa yang punya hobi berbeda dari kebanyakan mahasiswa lainnya, dan dengan angkuhnya aku menyimpulkan jika bergabung  dengan mereka akan merasa beda dan bisa berbangga diri: aku adalah seorang pendaki gunung yang tidak semua mahasiswa berani menapaki kaki di ketinggian penuh kabut dan melihat dataran bumi dari ketinggian.

Dan dengan semangat keangkuhan itu aku mendaftarkan diri di UKM-Mapala pada tahun 2009 dulu, dengan mengikuti Pendidikan Dasar Pecinta Alam. Delapan hari aku ditempa dengan didikan mereka yang sudah duluan mengerti MAPALA, dari sana aku mulai mendapatkan jawaban yang sebenarnya bahwa MAPALA bukanlah keangkuhan atau bangga beda dari mahasiswa lainya, dan menurut “rangkuman aku” juga bukan yang seperti kalian pikirkan: mereka segerombolan mahasiswa kurang kerjaan.

Mapala adalah sebuah organisasi legal (sah) internal kampus yang bergerak dibidang lingkungan hidup dan dijalankan oleh mahasiswa-mahasiswa dari Universitas yang memanyungi organisasi itu sendiri, disini tidak pernah di paksa untuk belajar apapun, tapi menanamkan kesadaran untuk belajar apa yang kita inginkan tanpa melangkahi aturan aturan kampus tempat kita menuntut ilmu.

Di UKM ini pengetahuan tentang status “mahasiswa” aku tumbuh sendirinya, yang menurut pengertian aku mahasiswa adalah anak muda yang aktif, kreatif, kritis dan disiplin dalam menanggapi berbagai permasalahan hidupnya sendiri maupun hidup bermasyarakat. Dan tanpa ragu aku menggabungkan makna “Mahasiswa” menurut pandangan sendiri dengan “Pecinta Alam-(red: Organisasi)," aku meringkasnya “UKM-Mapala itu adalah sebuah organisasi mahasiswa untuk mahasiswa, yang punya hobi berbeda dan aktif, kritis, kreatif serta disiplin.”

Sangat menakutkan jika sebuah universitas atau kampus ketika mahasiswanya mulai hilang keinginan berorganisasi dengan alasan-alasan yang klasik dan kurang masuk akal seperti: takut terganggu perkuliahannya atau dilarang orangtua. Kampus akan terlihat seperti Sekolah Dasar yang terpaku pada mata pelajaran yang diajarkan guru, hanya diajari cara menghitung,menulis dan membaca, dan tujuannya untuk mendapat nilai baik walau tanpa pengetahuan yang lebih. Sangat disayangkan kampus akan dihuni oleh mahasiswa yang di sebut agent of change tapi berpola pikir genre Sekolah Dasar.

Secuil pesan untuk teman-teman mahasiswa, aktiflah diorganisasi-organisasi kampus, aktif belajar berpikir lebih dan berbuat lebih dari yang lainnya dalam hal positif, dan yang masih takut berorganisasi pelajarilah tentang ketakutan kalian hingga kalian tahu alasan yang sebenarnya kenapa ada rasa takut untuk belajar berorganisasi dikampus, untuk kawan-kawan yang mulai ingin berorganisasi pelajari organisasi yang ingin kalian geluti dan pastikan itu bermanfaat untuk kehidupan kalian kedepannya bukan hanya manfaat disaat kalian masih berstatus mahasiswa.

Tanpa niat menyudutkan dan menyalahkan mahasiswa yang “ogah” berorganisasi, mahasiswa organisatoris rata-rata pola pikirnya berbeda dan cenderung mempunyai semangat lebih dan punya kesempatan lebih untuk menggapai impian-impiannya dengan pengalaman dan pengetahuan selama dia berorganisasi, dari segi kehidupan juga para organisatoris lebih terlihat sederhana dibandingkan dengan mahasiswa yang “phobia” organisasi.

Bukan ingin memprovokasi kalian untuk masuk ke UKM-Mapala yang aku geluti sekarang, bukan juga ingin promosi. Aku megambil Mapala sebagai contoh UKM atau Organisasi karena hampir disetiap kampus seluruh Indonesia ada UKM-Mapala, dan aku juga salah satu dari ribuan mahasiswa yang belajar didalamnya.


Penulis,

Broe
“Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Unigha.”
“Ka.Div Mountaineering di UKM-Mapala Jabal Everest Unigha.”

07 Oktober 2014

JIKA MENURUT KAMU?

Seorang mahasiswa Antropologi dari Italia yang sedang mengerjakan tesis datang ke kantor UKM-PA Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur pada Selasa, 7 Oktober 2014. Di sela-sela aku sedang beradaptasi dengan bahasa inggris, dia menanyakan beberapa pertanyaan menarik padaku, yang intinya lebih kurang begini.
"Menurut kamu Alam itu apa?"
"Sejak kapan dan kenapa kamu tertarik di bidang lingkungan hidup?"
"Mengapa di Aceh umumnya dan di tempat tertentu masih banyak sampah yang tergeletak sembarangan? Padahal banyak organisasi dalam kampus dan luar kampus atau LSM yang bergerak di bidang lingkungan."
"Solusi untuk mengubah kebiasaan itu menurut kamu bagaimana?"
Dengan malu-malu aku coba jawab pertanyaan tamu dari salah satu Universitas Eropa itu :
Menurut aku alam adalah anugerah Tuhan sebagai tempat tinggal dan tempat kita melakukan semua hal baik untuk bertahan hidup dan berinteraksi dengan makhluk sosial lainnya. Sebagai khalifah di muka bumi kita berkewajiban dan bertanggung jawab penuh terhadap kelestarian keasrian dan menjaga alam ini dari ancaman apapun.
Aku tertarik di bidang lingkungan hidup sejak bergabung dengan UKM Mapala Jabal Everest. Kalau di tanya: "mengapa", sebenarnya tidak ada alasan khusus yang bisa kujelaskan mengapa aku tertarik menggeluti bidang ini. Hanya karena banyak pengetahuan tentang lingkungan hidup yang kudapatkan sejak aku aktif di UKM ini hingga aku sadar ini tanggung jawab aku sebagai manusia dan mencintai lingkungan hidup adalah kewajiban kita sebagai mahkluk sosial. Aku disini hanya ingin berbuat walau itu hal kecil untuk tetap bisa menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Tidak bisa aku jawab jika itu pertanyaan untuk mengetahui alasan mengapa masih banyak sampah bertebaran di Aceh. Tapi jika menurutku, kebiasaan tidak peduli terhadap pentingnya menjaga lingkungan sekitar khususnya di sekeliling kita sendiri hingga sampah di mana-mana apalagi di tempat-tempat umum karena pengetahuan tentang pentingnya lingkungan hidup dan menjaga lingkungan di sekitar kita masih sangat minim. UKM dan LSM atau yayasan tidak cukup menjadi media untuk mengubah kebiasaan ini, peran seluruh elemenlah yang bisa mengubah ini dari anak kecil hingga dewasa; dari masyarakat biasa hingga kaum yang bertahta; dari rakyat jelata hingga pemerintah yang berkuasa.
Hanya satu jalan atau solusi yang terpikir oleh aku, tentang cara mengubah pola hidup yang tidak bagus ini, yakni beri pengetahuan kepada generasi sedini mungkin tentang kecintaan akan lingkungan hidup. Bisa dengan cara di masukkan pengetahuan lingkungan hidup ke kurikulum sekolah-sekolah atau instansi pendidikan dari Taman Kanak-Kanak sampai pendidikan tertinggi sebagai mahasiswa. Dan di sini peran pemerintah yang sangat diharapkan.
Aku tidak menjawab itu semua sekenanya tapi itu memang jawaban sepengetahuan otak kecil aku, tapi setelah menjawab pertanyaan mahasiswa asing itu aku berpikir: Apa yang akan di jawab oleh orang lain jika itu pertanyaannya?
Akhirnya aku menulis ini untuk bisa berbagi pendapat dan mendapat pengetahuan lebih tentang lingkungan hidup.
Semoga kalian bisa membantu menjawabnya dan terimakasih!!
Lestari...

Penulis
Chary Broe Dh’frog (Bukhari)
Ka.Div Mountaineering UKM-PA Jabal Everest

10 September 2014

Informasi

 Bagi Mahasiswa(i) Universitas Jalbal Ghafur yang Ingin Bergabung Dengan Mapala Jabal Everest, Kami Membuka kesempatan untuk di Diksar menjadi Anggota Mahasiswa Pecinta Alam Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur ( MAPALA JE UNIGHA ) Sigli.

Pendaftaran Dibuka Tanggal 10  s/d 30 September 2014, Tempat Pengambilan Formulir Pendaftaran

1. Sekretariat Mapala Jabal Everest Jln.Garot - Kota Bakti (Komplek PKM Universitas Jabal Ghafur) Gle Gapui

Keterangan Lebih Lanjut Hubungi Contac Dibawah Ini :

- Ismunandar      : +6285277817783
- Bukhari            : +6285211052830



19 Juli 2014

Hari Lingkungan Hidup Seduni 2014

Mengingat terjadinya kerusakan hutan Aceh yang cukup tinggi, maka UKM-PA Jabal Everest Universitas Jabal Ghafur Sigli melakukan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, dan dengan sedikit mengingat pada dua tahun silam di tangse  tentang banjir bandang yang sudah dua kali melanda dan menelan korban jiwa,harta benda dan mengakibatkan nilai-nilai keasrian alam sedikit berkurang. Maka dari ini Pada tanggal 4 s/d 6 juni UKM-PA Jabal Everest mengadakan baksos penanaman(penghijauan) serta sosialisasi tentang penting nya menjaga lingkungan sekitar kita di dayah Darussa’dah desa Lhok Keutapang Tangse Kabupaten Pidie Provinsi Aceh, dalam rangka Milad UKM-PA Jabal Everest serta Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang sama-sama jatuh tepat pada tanggal 5 Juni 2014.
Ketua Umum Jabal Everest Ismunandar mengatakan di sela-sela penanaman, kegiatan ini bertujuan membentuk jiwa yang peduli terhadap lingkungan serta menjaga nilai-nilai estetika alam, apalagi target yang kami utamakan dalam sosialisi ini adalah anak-anak santri di dayah Darussa’dah adalah jiwa-jiwa muda yang akan bertanggung jawab untuk kelestarian alam kedepan nanti nya ungkap nya dengan wajah yang sumringah.
kepala desa setempat juga mengungkapkan kebahagiaannya disela-sela penyambutan kedatangan anggota dari UKM-PA Jabal Everest, dengan kegiatan yang dilakukan UKM Jabal everest, kami sangat bahagia bisa menjadi pilihan adik-adik dalam memperingati Hari Lingkungan hidup tahun ini, mudah-mudahan program yang seperti ini bisa berjalan untuk tahun tahun selanjut nya.
Dari hasil wawancara Koorlap kegiatan dengan kepala desa dan tokoh-tokoh masyarakat setempat Desa Lhok keutapang ini berpenduduk sekitar 370 KK dari 3 dusun yaitu dusun cot weng 102 KK, dusun Lhok keutapang 130 KK dan dusun Geunie 138 KK.
Secara umum, Masyarakat didesa ini sudah sedikit mengerti  tentang pentingnya menjaga lingkungan di sekitar demi kelestarian alam dan keberlangsungan kehidupan makhluk hidup.itu terlihat jelas dari kebiasaan masyarakat setempat yang sudah tidak membuang sampah sembarangan dan tidak membuang sampah di aliran sungai yang masih sangat jernih di desa tersebut, Cuma untuk tempat pembuangan sampah khusus disini tidak ada tambah pak kepala desa, paling masyarakat membuang sampah di depan rumah dan di bakar setelah terkumpul banyak. Tapi yang sedikit miris di dusun geunie bagian dari desa lhok keutapang ini 0,1 % masyarakat belum mempunyai MCK, hingga mereka terpaksa mandi cuci kakus di aliran sungai tersebut.

25 Desember 2013

Gunung Halimon



Gunung Halimon terletak dikawasann Tangse kabupaten Pidie dengan ketinggian  1803 mdpl dengan koordinat 050 03’ 38,8’ Lintang Utara,0960 00.00,8 Bujur Timur, dengan suhu berkisar antara 30c sampai dengan 40c berbatasan dengan sebelah timur dengan Gle Leuhop,sebelah barat dengan panton Rasi, sebelah utara dengan Gle Meureuseu,dan sebelah selatan dengan desa Blang Pandak.
Gunung Halimon dilihat dari Blang Pandak

Gunung Halimon termasuk hutan tropis,karena banyak terdapat jenis tumbuh-tumbuhan besar maupun  kecil seperti pohon pinus, dan pohon-pohon didaerah Halimon banyak yang ditutupi lumut bukti bahwa suhu didaerah tersebut tergolong  dingin




Perkebunan terakhir menuju Gunung Halimon
Selama dalam perjalanan menaiki puncak Halimon kita tidak boleh ria. Saat berada di atas, setiap orang harus dengan niat yang bersih. Tidak diizinkan bercanda ria berlebihan Dalam perjalanan kita banyak pantangannya, tepuk tangan atau bersiul saja kita tidak boleh. Kalau kita bertepuk tangan atau bersiul, hujan deras akan turun dan kita akan tersesat atau mengalami hal-hal mistis di luar kesadaran kita.

Team Mapala  JE saat melakukan XPDC ke Puncak  Halimon

Tidak semudah dibayangkan dapat menempuh perjalanan mencapai puncak Halimon. Karena hutannya yang sangat lebat dan banyak juga binatang penghisap darah seperti pacat dan banyak juga serangga, maklum namanya aja alam bebas....hehe
 
Kota Sigli Dari Satelit

Lihat Map Lebih Lengkap