28 Oktober 2012

"ALAM MILIK SIAPA?"

Mengingat kutipan seorang penulis Amerika peraih nobel sastra ( Ernerst Hemingway ) “Olahraga sejati adalah hanya pendakian gunung, selain adu benteng dan balap mobil. Sedangkan yang lain hanya permainan. Alasan seorang Ernerst menulis kalimat itu, karena dalam permainan bola kaki jika seorang penjaga gawang salah mengantisipasi bola yang dan menyebabkan gol, resiko nya cuma kalah, tapi jika seorang pendaki terpeleset ke crevasse di Everest kemungkinan besar akan berujung pada mati. Tapi bagi para petualang alam bebas resiko itu sepadan dengan apa yang di dapatkan bila berhasil “memuncak”. Seorang pengusaha sukses juga seorang pendaki asal AS “ Dick Bass” mengatakan “ kesuksesan dalam bisnis tidak berarti banyak dibandingkan kenikmatan mencapai puncak-puncak tertinggi di Bumi dan petualang adalah panggilan dasar yang di wariskan manusia pertama yang mengelana di bumi”.
Tidaklah berlebihan hal yang dikatakan pengusaha tersebut, puncak-puncak tinggi dan hutan lebat di pegunungan yang tidak dengan mudah di jangkau oleh manusia-manusia adalah tempat “terindah” dan “ter-nyaman” di muka bumi ini bagi manusia dan makhluk hidup lain. Jauh dari “kerusakan” oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, jauh dari polusi udara yang di sebabkan canggih nya dunia sekarang dan juga pemandangan indah yang tidak di dapatkan di pinggiran trotoar atau di pinggir jalan bisa menjadi obat “stress” yang mujarab.
Nah, mungkin dari tulisan di atas bisa di artikan oleh orang banyak “ petualangan alam bebas” hanya menjadi kepuasan pribadi semata bagi “si pendaki”,  sehingga dukungan-dukungan moril dan materil susah didapatkan sekarang, tapi sebenarnya itu adalah anggapan yang salah. Banyak orang tidak tahu bahwa tujuan pendakian bukan cuma mencari kepuasan pribadi semata tapi mereka “para pendaki” adalah  orang yang “berbuat” untuk alam walau sedikit, melestarikan alam untuk bisa dinikmati orang banyak, jelas kita tahu bahwa hutan adalah paru-paru dunia untuk kehidupan makhluk hidup dan mereka juga menulis sesuatu yang baru di media-media, dan bisa mengantisipasi kepunahan hutan untuk kelangsungan makhluk hidup di muka bumi ini termasuk manusia.
Bukan rahasia lagi sekarang hutan jadi “objek” pembalakan liar, pembakaran hutan oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab dan tidak sedikit oknum-oknum pejabat yang bertanggung jawab dan di bayar untuk menjaga kelestarian hutan malah menjadi pengeksplor dan “pembabat” hutan yang semestinya “dia” berkewajiban menjaganya, dan juga tidak sedikit “oknum” yang menamakan dirinya “Pencinta Alam”, dengan slogan “lestarikan alam ini” yang menjadikan dirinya relawan “penjaga” alam dari kerusakan malah jadi penyumbang sampah-sampah “untuk alam ku yang malang” yang menyebabkan tanah tidak lagi subur dan tidak lagi alam kita menjadi “kolam susu” seperti dalam lirik lagu “koes plus”, gunung-gunung menjadi gundul, tanah-tanah menjadi gembur, hutan juga tidak ada tempat berpijak lagi dan mengakibatkan resiko terjadi banjir semakin besar yang menjadi korban adalah perkampungan-perkampungan, yang menanggung akibat termasuk mereka yang tidak berdosa, ini bukan kutukan tapi bencana yang sering kita undang.
Kesadaran “kita” tentang pentingnya menjaga kelestarian alam sekarang hampir tidak ada, banyak dari “kita” sekarang hanya menjadi “penikmat alam”. dan akhirnya Pertanyaan besar timbul “Alam ini milik siapa?” “siapa yang berhak dan harus menjaganya?” Apakah hanya tanggung jawab segelintir orang yang peduli dengan keadaan bumi yang semakin panas dan semakin rawan bencana atau milik kita semua penduduk bumi? Jawaban nya ada pada setiap diri “kita” yang punya pikiran, bisa dan mau berpikir.
Kota Sigli Dari Satelit

Lihat Map Lebih Lengkap